10 Ayat Alkitab tentang Perceraian dalam Kristen

Dalam kehidupan kita, bukanlah pendapat seorang ilmuwan, profesor, petinggi atau diri kita sendiri yang penting. TUHAN sang pencipta alam semesta menginginkan yang terbaik untuk kita semua. Oleh sebab itu, nasehatNya dalam ayat alkitab lah yang tertinggi dan terunggul. Khususnya saat membahas tentang perceraian. Firman TUHAN berulang kali menyebutkan pandangan Allah terhadap perceraian tersebut.

Pada saat kedua pengantin, pria dan wanita berikrar kepada TUHAN, ini adalah sesuatu yang serius. Pasangan suami istri yang sudah menikah telah disatukan oleh Allah, bisakah mereka dipisahkan oleh manusia? Mungkin ada yang berdalih karena tindakan perzinahan atau merasa ketidakcocokan setelah menikah, apakah perceraian dibenarkan menurut alkitab?

Bolehkan seseorang menikah lagi setelah bercerai? Atau apa solusi perceraian menurut alkitab? Pertanyaan pertanyaan tersebut memang beberapa kali kerap ditanyakan oleh pasangan kristen yang hendak berpisah. Untuk mengetahui jawabannya, mari secara langsung kita periksa ayat alkitab nya di bawah ini.

Ayat Alkitab tentang Perceraian dalam Kristen

1. Matius 19:9

Ayat 9 : “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Ayat pertama yang kita singgung adalah dalam buku Matius khususnya di pasal 19 ayat yang ke 9. Allah menganggap pernikahan sebagai suatu hal yang suci. Allah berfirman, siapapun yang menceraikan pasangan hidupnya kecuali karena alasan zinah, maka ia disamakan dengan melakukan dosa serius yakni perzinaan. Allah sangat tidak menyukai adanya perpisahan dalam pernikahan.

2. Markus 10:9

Ayat 9 : “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Sewaktu menikah, kita pastinya ikut menyertakan TUHAN sebagai pribadi utama penggelar keluarga dalam alkitab. Melalui pernikahan dua orang telah disatukan oleh Allah. Maka siapa kita bisa memisahkan apa yang TUHAN telah satukan?

3. 1 Korintus 7:28

Ayat 28 : “Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badan dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu.”

Menikah bukanlah akhir dari segalanya seperti yang biasanya kita lihat di dalam film film. Tetapi alkitab menyebut pernikahan itu sendiri adalah awal dari segala kesusahan. Orang yang menikah seharusnya adalah orang yang tahu konsekuensi dan tanggung jawab yang harus mereka ambil. Termasuk ketika ada masalah dalam perkawinan. Maka, perceraian adalah solusi terburuk untuk itu.

4. Matius 19:6

Ayat 6 : “Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Selain ayat diatas, ada banyak ayat lain yang menyebutkan bahwa “Apa yang telah dipersatukan Alah, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Peringatan ini diberikan untuk meyakinkan kita bahwa Allah sangat tidak suka perceraian dan bahwa hal itu menjijikkan dimataNya.

5. Matius 19:10

Ayat 10 : “Murid-murid itu berkata kepada-Nya: Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”

Berikutnya, ayat yang menarik sebagai prinsip dalam perkawinan adalah di matius 19 ayat yang ke 10. Ayat ini sebenarnya berbicara seperti ini “Untuk apa menikah, jika akhirnya akan bercerai.” Kata kata selanjutnya mengatakan “Sebaiknya jangan kawin”.

6. Amsal 14:15

Ayat 15 : “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya.”

Perceraian sendiri kata alkitab bisa dikatakan sesuatu hal yang tanpa pikir panjang dan bahwa hal itu adalah akhir dari segalanya. Tapi benarkah demikian? Tidak, orang yang dikatakan bijak akan memperhatikan setiap langkahnya, ia tidak akan membuat keputusan yang melanggar prinsip alkitab. Sebaliknya setiap perkataan oleh manusia bisa menjerat atau bertentangan dengan apa yang TUHAN kehendaki.

7. 1 Timotius 5:8

Ayat 8 : “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman.”

Bukan hanya soal perceraian, Allah juga melihat dan memperhatikan kehidupan dan keadaan setiap keluarga. Maka, barangsiapa tidak memelihara sanak keluarga dan seisi rumah ia disamakan seperti seorang yang tidak beriman. Hal ini mencangkup suami yang tidak memberi nafkah atau istri yang tidak mengurus dan melayani keluarganya.

8. Kejadian 2:24

Ayat 24 : “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”

Tujuan pernikahan dalam buku kejadian berulang kali disebutkan dalam beberapa pembahasan. Seperti pernikahan, cinta, keluarga dan juga perceraian. Untuk mewujudkan hal ini lah, perceraian disebutkan sangat bertolak belakang dengan perintah Allah. Apalagi sewaktu menikah ini adalah kata kata ikrar sepasang kekasih kepada Allah.

9. Amsal 18:1

Ayat 1 : “Orang yang menyendiri, mencari keinginannya, amarahnya meledak terhadap setiap pertimbangan.”

Masalah memang bisa datang kapan, dimana dan siapa saja. Termasuk dalam keluarga atau bahtera rumah tangga kristen. Keinginan manusia tidak sempurna memang terkadang susah untuk dikendalikan bahkan adanya amarah yang meledak bisa menimbulkan keputusan tanpa pertimbangan. Maka, karena mengetahui hal ini kita tahu akan pentingnya berdiam diri sejenak dan berfikir.

10. Galatia 6:5

Ayat 5 : “Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.”

Ayat ayat alkitab sebelumnya kita sudah membahas bagaimana pandangan TUHAN terhadap perceraian. Maka, hal lain yang juga penting dalam pernikahan juga ditandaskan dalam buku Galatia yang mengatakan bahwa setiap orang akan memikul tanggungannya sendiri. Keputusan apapun yang Anda ambil pada akhirnya akan Anda pertanggungjawabkan di hadapan TUHAN.

Baca Juga :

Inilah kumpulan ayat alkitab praktis sebagai nasehat untuk perkawinan Anda. Dari ayat alkitab tersebut sudah jelas sekali kita diberi tahu bagaimana TUHAN memandang serius perceraian dan apa tujuan TUHAN untuk setiap keluarga atau pasangan yang sudah berikrar dalam sebuah pernikahan. Maka, hendaknya kita masing masing bisa berupaya mengindahkan nasehat terbaik ini.

Memang, setiap orang memiliki kebebasan untuk memilih dan memutuskan mana yang terbaik untuk diri sendiri. Tapi, jika kita mengutamakan TUHAN daripada keinginan hati, niscaya nasehatNya lah yang terbaik dan solusi dari segala jenis masalah dalam pernikahan. Semoga bisa bermanfaat!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel